Menilik Pergerakan IHSG dan Arah Ekonomi Indonesia di Awal 2025
Thursday, 20 March 2025

Awal tahun 2025 menjadi periode yang menarik untuk mencermati dinamika pasar modal Indonesia. Salah satu momen yang menyita perhatian adalah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mengalami penyesuaian cukup signifikan pada 18 Maret 2025. Saat itu, IHSG tercatat melemah sebesar 5,02%, sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt selama 30 menit sebagai bagian dari mekanisme pengamanan pasar. 

Pergerakan ini tentu menjadi bagian dari dinamika pasar yang wajar, terutama dalam periode transisi dan penyesuaian terhadap arah kebijakan ekonomi yang tengah berlangsung. Momen ini menjadi cerminan bagaimana ekspektasi pasar terhadap perkembangan makroekonomi dapat berubah dengan cepat.

Di tengah gejolak pasar, pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas fiskal melalui pengelolaan anggaran yang terukur. Berbagai langkah efisiensi belanja negara dilakukan agar alokasi anggaran dapat mendukung sektor-sektor strategis, seperti infrastruktur, ketahanan pangan, hingga pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sebagai kontributor utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional, konsumsi rumah tangga terus menjadi perhatian. Namun, sejumlah indikator menunjukkan bahwa terjadi penyesuaian dalam struktur konsumsi masyarakat. Berdasarkan laporan dari salah satu media, selama enam tahun terakhir terdapat kecenderungan penyusutan kelas menengah sekitar 20%, yang menjadi sinyal perlunya penguatan strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bank Indonesia pun turut berperan aktif dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan moneter. Pada awal 2025, BI menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75% sebagai langkah antisipatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global. 

Dalam konferensi pers terbaru, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi yang sehat dan terkendali. Pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dengan demikian, pergerakan pasar yang terjadi pada IHSG bukanlah cerminan tunggal dari kondisi ekonomi secara menyeluruh. Namun, momen ini menjadi pengingat bahwa diperlukan kerja sama antara pemerintah, pelaku pasar, hingga masyarakat, agar setiap peluang dapat dimaksimalkan secara produktif.  

 

Penulis : Alivia Putri Winata 

Sumber : 

https://www.ft.com/

https://www.liputan6.com/

https://www.reuters.com/ 

Share:
Back to Blogs